A. Definisi dan Tujuan Studi Perbandingan Pendidikan

      Menurut Carter V.Good definisi perbandingan pendidikan adalah: lapangan studi yang mempunyai tugas untuk mengadakan perbandingan teori dan praktek pendidikan sebagaimana terdapat pada berbagai negara pendidikan di luar negeri sendiri.Definisi ini menunjuk aspek operasional dari pendidikan yang terdapat di suatu negara atau masyarakat.Didalam mempelajari system pendidikan suatu negara secara perbandingan, tidak boleh tidak mesti memperhatikan dimensi waktu, mempelajari latar belakang atau faktor yang lain.
      Menurut pengertian dasar perbandingan pendidikan adalah berarti menganalisa dua hal atau lebih untuk mencari kesamaan–kesamaan dan perbedaan–perbedaannya. Dengan demikian maka studi perbandingan pendidikan ini adalah mengandung pengertian sebagai usaha menganalisa dan mempelajari secara mendalam dua hal atau aspek dari system pendidikan, untuk mencari dan menemukan kesamaan–kesamaan dan perbedaan–perbedaan yang ada dari kedua hal tersebut.
      Perbandingan pendidikan merupakan terjemahan dari istilah“Comparative Education”. Sementara ahli yang lain, mengalihkan istilah tersebut kedalam bahasa Indonesia.Dengan menggunakan istilah pendidikan perbandingan. Namun pada dasarnya berbagai istilah yang digunakan mempunyai pengertian yang sama, yaitu sebagai studi komparatif (studi perbandingan) tentang pendidikan. Atau bisa juga disebut dengan studi tentang pendidikan yang menggunakan pendekatan dan metode perbandingan.
      Tujuan perbandingan pendidikan ialah untuk mengetahui perbedaan-perbedaan kekuatan apa saja yang melahirkan bentuk-bentuk sistem pendidikan yang berbeda-beda di dunia ini.Dengan kata lain,pada sebuah negara,misalnya kekuatan keagamaan merupakan faktor pendorong utama dan menjadi dasar pembentukan sistem pendidikan,sementara di negara lain faktor sosial merupakan landasan berpijak suatu sistem pendidikan. Ada kemungkinan sebuah negara memformulasikan sistem pendidikannya dengan meletakkan pertimbangan utamanya sosial ekonomi, sosial demografis,dan sosial budaya.
      Sejalan dengan Kendal, Nicholas Hans merumuskan bahwa tujuan perbandingan pendidikan ialah untuk mengetahui prinsip-prinsip apa sesungguhnya yang mendasari pengaturan perkembangan sistem pendidikan nasional.
      Pendapat yang lebih umum mengikuti pola perumusan yang dilakukan dalam bidang sosiologi, bahwa tujuan perbandingan pendidikan adalah untuk memperoleh morfologi pendidikan, yaitu suatu gambaran dan klasifikasi global mengenai berbagai bentuk pendidikan;untuk mengetahui hubungan dan interaksi antara elemen-elemen dalam pendidikan dan hubungan antara pendidikan dan masyarakat;dan untuk membendakan perubahan-perubahan yang fundamental dalam pendidikan dan hal-hal yang tetap dipertahankan, serta menghubungkan keduanya dengan nilai-nilai filosofis yang diyakini. 

B. Sejarah dan Dinamika Ilmu Perbandingan Pendidikan

       Studi Perbandingan muncul pada saat penting dalam sejarah dunia. Eropa telah menemukan sisa dari dunia dan mencoba untuk menjelaskan variasi banyaknya. penjelasan Rasional sedang dicari sifat sebenarnya dari lembaga-lembaga manusia.Sebuah keyakinan yang diperlukan dalam hukum alam membuat penilaian tentang bagaimana pemerintah, keluarga, dan masyarakat sipil yang terorganisir. Perkembangan ini memberikan kontribusi pada peningkatan studi komparatif. Ilmu itu sangat penting dalam perkembangan studi banding, dan sarjana komparatif awal seragam diidentifikasi sebagai salah satu bidang yang didasarkan pada penggunaan "metode ilmiah" Dalam pengertian ilmiah yang lebih umum, sarjana perbandingan diuji hipotesis tentang hubungan sebab akibat antara gejala.Namun, dari para ulama juga perbandingan awal Pembatasan penelitian ilmiah mereka dalam dua cara.Pertama, mereka memeriksa persamaan dan perbedaan antara fenomena atau kelas dari fenomena. Kedua, sedangkan ilmu pengetahuan umumnya berkomitmen untuk eksperimentasi sebagai suatu cara untuk membuat klasifikasi dan teori pengujian, sarjana perbandingan hampir seluruhnya bergantung pada variasi belajar secara alami dan wajar.
Perbandingan pendidikan (Comparative Education ) sebagai salah satu bagian dalam bidang pendidikan memulai peran nyatanya pada tahun 1960-an walaupun pada hakikatnya kegiatan pembandingan pendidikan itu telah berlangsung sejak berabad-abad yang lalu dan telah ikut pula melahirkan berbagai institusi pendidikan secara formal.Dalam usianya yang relatif muda, ”perbandingan pendidikan” telah menunjukkan sumbangannya terhadap perbaikan dan peningkatan pendidikan di berbagai negara.Namun demikian,tidak mengherankan apabila intensitas perhatian dan kegiatan formal perbandingan pendidikan ini sangat berbeda antara negara-negara bahkan juga tidak sama secara regional.
      Dalam perkembangan bidang ilmu perbandingan pendidikan ,cukup banyak nama yang bisa disebut,baik dalam kategori pelopor,sebagai ahli dalam bidang perbandingan pendidikan atau keduanya.Beberapa nama patut disebutkan sebagai gambaran bahwa bidang ilmu ini pun juga sudah mengglobal. Di Amerika Utara dan Eropa , misalnya, I.L Kandel, Robert Ulich, Nocholas Hans, Friederich Schneider, Franz Hilker, Erich Hylla, Lauwerys, George Z.Bereday, Williams W.Brickman, Harold Noah, C.Arnold Anderson, dan Claude A.Anderson merupakan nama-nama yang hasil karyanya dalam bidang perbandingan pendidikan sering dirujuk.

C. Metode-metode dalam Studi Perbandingan Pendidikan

      Perbandingan pendidikan dimulai dengan pengamatan tentang orang asing dan pendidikan mereka kemudian dikembangkan menjadi gambaran sistem sekolah asing. Fase deskriptif secara bertahap diperluas untuk mencakup pemeriksaan, konteks sosial, politik, dan sejarah di mana sistem sekolah dikembangkan. Dimensi lebih ditambahkan dengan deskripsi dari hubungan ini sebagai pendidikan komparatif melanjutkan untuk mempertimbangkan interaksi dinamis antara pendidikan dan pengaturan sosial perusahaan.
       pendidikan Perbandingan dengan demikian bagian dari upaya yang lebih luas untuk menjelaskan fenomena, pertama, dalam sistem pendidikan dan lembaga-lembaga, dan kedua, sekitar pendidikan dan menghubungkannya dengan lingkungan sosialnya. Upaya untuk melakukan sebuah keprihatinan dengan teknologi pendidikan: metode, praktik, dan hasil dari berbagai modus instruksi, organisasi, pengawasan, administrasi, dan keuangan. Sejauh ini pendidikan komparatif berkaitan dengan pedagogi, pekerjaan umumnya telah dilakukan oleh para guru, administrator, dan psikolog pendidikan.
      Perbandingan pendidikan memiliki bagian yang tertanam kuat di pedagogi dan yang lainnya di daerah yang lebih luas dari ilmu-ilmu sosial. Kepeduliannya dengan bentuk dan fungsi dari sekolah, bagaimanapun, bersatu kedua aspek lapangan dengan berkonsentrasi perhatian pada jenis data yang sama dan topik pelengkap. Unsur pemersatu dan mungkin yang lebih penting, baru-baru ini menjadi jelas dalam gerakan umum terhadap metode empiris dan kuantitatif penyelidikan.
D. Pendekatan-Pendekatan dalam Studi Perbandingan Pendidikan
      Untuk mempelajari Studi Perbandingan Pendidikan,maka diperlukan beberapa pendekatan-pendekatan dalam mempelajarinya,diantaranya :

a. Pendekatan Sistem ahistoris Tipologis
       Salah satu variasi utama dalam pekerjaan klasifikasi antara comparativists adalah usaha untuk mengklasifikasikan sistem sosial dan struktur yang tidak menyarankan pengaturan evolusi atau hirarkis. Perbandingan politik sangat dikenal karena ahistoris upaya untuk mengembangkan kategori mewakili dunia politik kontemporer.Meskipun juga telah memberikan perhatian untuk modernisasi dan pembangunan politik, utamanya politik komparatif warisan, yang bunga dalam mengklasifikasikan jenis rezim yang ada, mencari setara bahasa dalam sistem politik yang berbeda, dan mengelompokkan fungsi masing-masing.
      Demikian pula, spesialis dalam hukum perbandingan tertarik dalam isi normatif dari berbagai sistem hukum. Mereka berusaha untuk mendefinisikan sistem hukum keluarga seperti hukum Romawi, hukum umum, atau hukum sosialis, dan mengidentifikasi norma-norma dan cara berpikir yang terjadi dalam keluarga-keluarga hukum.
       Sedangkan tipologi ahistoris mendominasi bidang perbandingan, pendidikan komparatif telah memberikan sedikit perhatian untuk tipologi nasional. Ini tampaknya sangat mendasar bahwa bidang perbandingan hampir tidak ada dalam arti yang bermakna kecuali objek penelitian telah diklasifikasikan dalam beberapa cara yang ketat sehingga penelitian adalah kumulatif. Perbandingan pendidikan harus bergantung pada tipologi yang diambil dari bidang lain, tetapi tidak berbuat banyak untuk memperluas dan meningkatkan bentuk tipologi pendidikan. Memang benar bahwa Marc Antoine Jullien, dilihat oleh banyak orang sebagai bapak pendidikan komparatif, adalah salah seorang ulama modern pertama yang mendirikan desain klasifikasi yang akan memfasilitasi pengumpulan dan katalogisasi data tentang sistem sekolah yang berbeda. Skema ini telah ditahan sampai hari ini.Beberapa pekerjaan awal dilakukan oleh Pedro Rosello, dan diikuti oleh para sarjana seperti Franz Hilker (1962) dan George Bereday (1964), yang diasumsikan bahwa sebelum penjajaran bisa terjadi dalam proses perbandingan, klasifikasi jelas akan diperlukan. Namun, itu biasanya jatuh pada badan-badan internasional dan organisasi untuk mengklasifikasi data pendidikan internasional, terutama karena kelompok-kelompok seperti Biro Pendidikan Internasional, Unesco, Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan, dan Dewan Eropa, yang mulai mengumpulkan informasi tentang pendidikan di berbagai pengaturan nasional, diakui perlunya menggunakan seperangkat kategori standar. Fokus dasar skema terbanyak adalah pada tingkat dan jenis pendidikan, dan telah lama jelas bahwa tata-nama, dan fleksibilitas skema hanya kira-kira yang sesuai dengan kebanyakan negara.
b. Pendekatan sejarah dalam studi perbandingan
      Penelitian sejarah memainkan peran penting sebagai bidang pendidikan komparatif tersebut didefinisikan. Banyak perintis awal lapangan itu sendiri sejarawan, termasuk Robert Ulich, Ishak Kandel, Harold Benyamin dan William W. Brickman. Mereka yang menulis buku teks awal, termasuk Ishak Kandel (1933) serta DI Thut dan Don Adams (1964), mengambil pendekatan historis untuk studi negara mereka.
c. Pendekatan melalui pengaruh budaya
      Beberapa bidang perbandingan fokus terutama pada pengaruh dalam dan lintas budaya. Perbandingan sastra adalah contoh utama dari orientasi ketika bahwa ahli perbandingan berupaya untuk mengungkap keterkaitan antara individu, sekolah pemikiran, atau literatur nasional sepanjang waktu dan ruang. Dalam hal waktu, spesialis sastra komparatif ingin bagaimana Katolik dipengaruhi sastra Jerman klasisisme Jerman dan bagaimana klasisisme, pada gilirannya, dipengaruhi romantisme; bagaimana Shakespeare berubah sastra Inggris, bagaimana sastra modern Eropa dalam utang untuk sastra Yunani dan Latin. Dalam hal ruang, sarjana sastra komparatif ingin melacak pergerakan tema dan genre dari satu tempat ke tempat lain, bagaimana agama tema di Swiss pindah ke Belanda, kemudian ke Amerika, bagaimana Tolstoi, Emerson dan Thoreau dipengaruhi penulis India di Asia Selatan; bagaimana penulisan Afrika menggabungkan gaya Eropa; bagaimana pola dasar bergerak Don Juan dari kebudayaan (misalnya, Samuel dan Shanmugham 1980; Weisstein 1968; Weisbuch 1989; Highet 1992).
      Beberapa pekerjaan penting telah dilakukan dalam pendidikan komparatif terkait dengan menelusuri pengaruh dalam perubahan pendidikan dan reformasi. Harry Armytage, misalnya, telah menulis empat buku menelusuri pengaruh Amerika, Perancis, Jerman, dan Rusia di bidang pendidikan bahasa Inggris (1967, 1968; 1969a; 1969b). Frederick Schneider (1943) mengabdikan sebagian besar masa tugasnya dari pengasingan di Nazi Jerman menelusuri pengaruh pendidikan Jerman pada negara-negara lain. 

E. Ruang Lingkup Studi Ilmu Perbandingan Pendidikan

      Mengingat studi perbandingan pendidikan mempunyai sasaran yang tidak hanya terbatas pada permasalahan kependidikan disuatu atau dibeberapa negara dengan latar belakang kebudayaan yang berbeda-beda, maka untuk lebih memantapkan studi tersebut para ahli telah memberikan pendapatnya tentang ruang lingkupnya, sebagai berikut :
1. J.P. Sarumpet MA. Lektor pada Universitas Melbourne, meninjau beberapa bagian terpenting dari sistem pendidikan masing-masing negara. Pertama-tama ditinjau dari segi sejarah pendidikannya secara singkat untuk mengetahui sistem apa yang berlaku saat ini. Kemudian ditinjau administrasi pendidikan terutama dilihat dari segi praktik administrasi dan organisasinya,misalnya di Prancis menganut sistem sentralisasi dalam penyelenggaraan pendidikan,sedangkan di Inggris sebaliknya memberikan kekuasaan kepada daerah untuk mengurus pendidikannya sendiri.
2. William W. Brickman berpendapat bahwa perbandingan pendidikan itu mempelajari dan menganalisis serta memperbandingkan hal-hal sebagai berikut :
  1. Mempelajari sistem pendidikan di negara lain dan penjelasan mengenai permasalahan pendidikan;
  2. Menganalisis mengenai latar belakang yang mempengaruhinya serta problema-problemanya dilihat dari berbagai pandangan tentang problema yang kontroversial;
  3. Membandingkan tentang persamaan dan perbedaan antara point a dan b tersebut diatas;
  4. Memperbandingkan dan menilai sebab-sebab pokok sebelum dan sesudah dilakukan pemecahan problema-problema yang kontroversial dan yang bersifat biasa.
3. Menurut pendapat DR.Nazily Shalih dan DR.Abdul Ghani Abud, studi perbandingan itu mempunyai ruang lingkup yang luas,karena mencakup hal-hal sebagai berikut :
  1. Segala pengetahuan yang berkaitan dengan sistem pendidikan dan pengajaran dalam masyarakat yang berbeda;
  2. Berbagai teori atau pengetahuan pendidikan seperti filsafat pendidikan, kurikulum pendidikan, manajemen, budged kependidikan, metodologi kependidikan, masalah penyediaan guru dan pembinaannya serta peraturan-peraturan yang berlaku;
  3. Sejarah pendidikan dari suatu negara, karena sejarah dapat menjelaskan problematika kependidikan untuk masa kini;
  4. Kebudayaan suatu masyarakat atau bangsa yang merupakan latar belakang yang mempengaruhi timbulnya sistem kependidikan yang berbeda antara yang satu dari yang lainnya.

PENUTUP

      Dari pembahasan makalah diatas tentang Konsep Dasar Perbandingan Pendidikan, maka dapat disimpulkan bahwa Perbandingan Pendidikan adalah studi tentang sebab-sebab yang menimbulkan tentang problematika kependidikan dan pengajaran serta sebab-sebab yang dapat menimbulkan persamaan dan perbedaan diantara sistem-sistem yang ada dinegara-negara yang berbeda itu.
      Tujuan perbandingan pendidikan adalah mengetahui perbedaan-perbedaan kekuatan apa saja yang melahirkan bentuk-bentuk sistem pendidikan yang berbeda-beda di dunia ini.
Adapun pendekatan-pendekatan yang digunakan dalam studi perbandingan pendidikan adalah melalui pendekatan Sistem ahistoris Tipologis, pendekatan sejarah, dan pendekatan melalui pengaruh budaya.

DAFTAR PUSTAKA

Nur,Agustiar Syah,2001, Perbandingan Sistem Pendidikan 15 Negara , Bandung : Lubuk Agung
H.M.Arifin,2003,Ilmu Perbandingan Pendidikan,Jakarta : Golden Terayon Press
http://edukasi.kompasiana.com/2011/01/11/perbandingan-sistem-pendidikan-di-indonesia-dan-meksiko/
http://muhamadqbl.blogspot.com/2010/04/makna-dari-term-perbandingan-dalam 15. html
http://muhamadqbl.blogspot.com/2010/06/menuju-ilmu-perbandingan-pendidikan .html

Kali ini kami akan memandu anda bagaimana cara mempercepat kinerja dari operating system buatan Microsoft yang notabene merupakan operating system paling populer saat ini.
Berikut adalah tips yang dapat mempercepat kinerja windows 7 tanpa memerlukan banyak waktu untuk mengkonfigurasikannya :
  1. Singkirkan Font yang tidak digunakan. Kecuali anda bekerja di bagian percetakan, ada banyak sekali font yang tidak digunakan namun tetap di load saat anda menggunakan Windows 7. Hal ini menyebabkan berkurangnya kapasitas memory kosong yang sebenarnya dapat digunakan oleh proses lain. Untu menyingkirkan font yang tidak digunakan, ikuti langlah-langkah di bawah ini.
    • Buat folder baru sebagai folder backup font.
    • Buka control panel dan lanjutkan dengan membuka folder fonts.
    • Pilih font yang tidak biasa anda gunakan dan pindahkan ke folder backup yang telah anda buat tadi. Jangan menghapus font yang tidak anda gunakan karena mungkin pada saat yang lain anda membutuhkannya. Jika ingin mengaktifkan font yang telah anda pindah, hanya perlu mengembalikannya ke folder semula.
  2. Percepat waktu booting. System windows 7 akan booting lebih cepat jika anda menggunakan tips berikut ini.
    • Klik start, lanjutkkan dengan mengetik msconfig pada Start Search dan tekan tombol enter.
    • Klik tab Boot dan pergi ke bagian Advanced Options.
    • Ketik jumlah nomor processor yang digunakan saat proses pada kolom Number of Processors.
    • Klik Apply dan restart system untuk melihat efeknya.
  3. Nonaktifkan System Sound. Jika anda tidak tertarim menggunakan system sound, anda dapat menonaktifkannya dengan melakukan langkah di bawah ini. Hal ini akan mempercepat proses saat loading system.
    • Klik start, lanjutkkan dengan mengetik mmsys.cpl pada Start Search dan tekan tombol enter.
    • Buka tab Sound dan pilih No Sound pada pilihan yang ada.
    • Klik Apply untuk mengaplikasikannya dan restart Windows 7 anda.
  4. Nonaktifkan Index Search di Windows 7.
    • Klik start, lanjutkkan dengan mengetik services.msc pada Start Search dan tekan tombol enter.
    • Cari Windows Search, klik kanan dan kemudian dan nonaktifkan service tersebut.
  5. Nonaktifkan Service yang tidak digunakan. Beberapa service windows masih berjalan pada system meskipun kita sendiri tidak memerlukannya. Hal ini akan memakan memory yang sebenarnya dapat digunakan untuk proses lain yang lebih penting. Untuk menonkatifkan service yang tidak digunakan, ikuti petunjuk berikut ini.
    • Buka Start menu, All Programs dan kemudian lanjutkan ke Administrative Tools Options. Pilihan ini mungkin tidak ada jika anda login sebagai Guest, bukan sebagai admin.
    • Klik tab Advanced dan lihat nama service yang ada pada bagian bawah.
    • Hilangkan tanda check-box pada service yang tidak digunakan dan biarkan service yang masih anda gunakan.
    • Restart windows 7 untuk melihat efeknya.
  6. Kurangi Start-up Windows 7. Banyak apliaksi yang di-load secara otomatis oleh windows padahal anda sendiri jarang menggunakannya. Untuk menonaktifkan Start-up program, ikuti langkah berikut ini.
    • Klik start, lanjutkkan dengan mengetik msconfig pada Start Search dan tekan tombol enter.
    • Buka tab Startup.
    • Nonaktifkan start-up aplikasi yang tidak digunakan dan restart windows 7 anda.
Dari 6 tips di atas, sebenarnya masih banyak tips lain yang dapat anda gunakan untuk mempercepat system Windows 7 dengan catatan anda harus mengerti bagaimana system bekerja.

Kali ini kami akan memandu anda bagaimana cara mempercepat kinerja dari operating system buatan Microsoft yang notabene merupakan operating system paling populer saat ini.
Berikut adalah tips yang dapat mempercepat kinerja windows 7 tanpa memerlukan banyak waktu untuk mengkonfigurasikannya :
  1. Singkirkan Font yang tidak digunakan. Kecuali anda bekerja di bagian percetakan, ada banyak sekali font yang tidak digunakan namun tetap di load saat anda menggunakan Windows 7. Hal ini menyebabkan berkurangnya kapasitas memory kosong yang sebenarnya dapat digunakan oleh proses lain. Untu menyingkirkan font yang tidak digunakan, ikuti langlah-langkah di bawah ini.
    • Buat folder baru sebagai folder backup font.
    • Buka control panel dan lanjutkan dengan membuka folder fonts.
    • Pilih font yang tidak biasa anda gunakan dan pindahkan ke folder backup yang telah anda buat tadi. Jangan menghapus font yang tidak anda gunakan karena mungkin pada saat yang lain anda membutuhkannya. Jika ingin mengaktifkan font yang telah anda pindah, hanya perlu mengembalikannya ke folder semula.
  2. Percepat waktu booting. System windows 7 akan booting lebih cepat jika anda menggunakan tips berikut ini.
    • Klik start, lanjutkkan dengan mengetik msconfig pada Start Search dan tekan tombol enter.
    • Klik tab Boot dan pergi ke bagian Advanced Options.
    • Ketik jumlah nomor processor yang digunakan saat proses pada kolom Number of Processors.
    • Klik Apply dan restart system untuk melihat efeknya.
  3. Nonaktifkan System Sound. Jika anda tidak tertarim menggunakan system sound, anda dapat menonaktifkannya dengan melakukan langkah di bawah ini. Hal ini akan mempercepat proses saat loading system.
    • Klik start, lanjutkkan dengan mengetik mmsys.cpl pada Start Search dan tekan tombol enter.
    • Buka tab Sound dan pilih No Sound pada pilihan yang ada.
    • Klik Apply untuk mengaplikasikannya dan restart Windows 7 anda.
  4. Nonaktifkan Index Search di Windows 7.
    • Klik start, lanjutkkan dengan mengetik services.msc pada Start Search dan tekan tombol enter.
    • Cari Windows Search, klik kanan dan kemudian dan nonaktifkan service tersebut.
  5. Nonaktifkan Service yang tidak digunakan. Beberapa service windows masih berjalan pada system meskipun kita sendiri tidak memerlukannya. Hal ini akan memakan memory yang sebenarnya dapat digunakan untuk proses lain yang lebih penting. Untuk menonkatifkan service yang tidak digunakan, ikuti petunjuk berikut ini.
    • Buka Start menu, All Programs dan kemudian lanjutkan ke Administrative Tools Options. Pilihan ini mungkin tidak ada jika anda login sebagai Guest, bukan sebagai admin.
    • Klik tab Advanced dan lihat nama service yang ada pada bagian bawah.
    • Hilangkan tanda check-box pada service yang tidak digunakan dan biarkan service yang masih anda gunakan.
    • Restart windows 7 untuk melihat efeknya.
  6. Kurangi Start-up Windows 7. Banyak apliaksi yang di-load secara otomatis oleh windows padahal anda sendiri jarang menggunakannya. Untuk menonaktifkan Start-up program, ikuti langkah berikut ini.
    • Klik start, lanjutkkan dengan mengetik msconfig pada Start Search dan tekan tombol enter.
    • Buka tab Startup.
    • Nonaktifkan start-up aplikasi yang tidak digunakan dan restart windows 7 anda.
Dari 6 tips di atas, sebenarnya masih banyak tips lain yang dapat anda gunakan untuk mempercepat system Windows 7 dengan catatan anda harus mengerti bagaimana system bekerja.
Khutbah Jum'at

Di susun oleh: Abu Adam Al-Khoyyat (Hartono)

Hadirin jamaah shalat Jum'at rahimakumullah
Hendaknya seorang Muslim senantiasa bersyukur kepada Allah atas nikmat-nikmat yang telah Allah limpahkan kepada kita semua, baik nikmat keimanan, kesehatan dan keluangan waktu sehingga kita bisa melaksanakan kewajiban kita menunaikan shalat Jum'at. Dan hendaklah kita berhati-hati agar jangan sampai menjadi orang yang kufur kepada nikmat Allah. Allah berfirman:

"Jikalau kalian bersyukur pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kalian mengingkari (nikmatKu), maka sesungguhnya siksaku sangat pedih." (Ibrahim: 7).
Demikian pula kami wasiatkan untuk senantiasa bertakwa kepada Allah dalam segala keadaan dan waktu. Takwa, sebuah kata yang ringan diucapkan akan tetapi tidak mudah untuk diamalkan.
Ketahuilah, wahai saudaraku rahimakumullah, tatkala Umar bin Khaththab Radhiallaahu anhu bertanya kepada shahabat Ubay bin Ka'ab Radhiallaahu anhu tentang takwa, maka berkatalah Ubay: "Pernahkah Anda berjalan di suatu tempat yang banyak durinya?" Kemudian Umar menjawab: "Tentu" maka berkatalah Ubay: "Apakah yang Anda lakukan", berkatalah Umar: "Saya sangat waspada dan hati-hati agar selamat dari duri itu". Lalu Ubay berkata "Demikianlah takwa itu" (Tafsir Ibnu Katsir, Juz 1, hal. 55).
Demikianlah takwa yang diperintahkan oleh Allah dalam kitabNya yakni agar kita senantiasa waspada dan hati-hati dalam setiap tindakan keseharian kita, dan juga dalam ucapan-ucapan kita, oleh karena itu janganlah kita berbuat dan berucap kecuali berdasarkan ilmu.

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah.
Hendaklah kita bersegera mencari bekal guna menuju pertemuan kita dengan Allah karena kita tidak tahu kapan ajal kita itu datang. Dan Allah berfirman:
"Dan berbekallah, maka sesungguhnya sebaik-baiknya bekal adalah takwa, dan bertakwalah kepadaKu hai orang-orang yang berakal." (Al-Baraqah:197)

Ketahuilah wahai saudaraku rahimakumullah.
Manusia setapak demi setapak menjalani tahap kehidupan-nya dari alam kandungan, alam dunia, alam kubur dan alam akhirat. Tahap-tahap tersebut harus dijalani sampai akhirnya nanti kita akan menemui alam akhirat tempat kita memperhitungkan amalan-amalan yang telah kita lakukan di dunia. Maka tatkala kita mendengar ayat-ayat Al-Qur'an dan hadits-hadits Nabi yang memberitakan tentang ahwal (keadaan) hari Akhir, hendaklah hati kita menjadi takut, menangislah mata kita, dan menjadi dekatlah hati kita kepada Allah.
Akan tetapi bagi orang yang tidak memiliki rasa takut kepada Allah tatkala disebut kata Neraka, adzab, ash-shirat dan lain sebagainya seakan terasa ringan diucapkan oleh lisan-lisan mereka tanpa makna sama sekali. Na-uzu billahi min dzalik. Mari kita perhatikan firman Allah dalam surat Al-Haqqah ayat 25-29.
"Adapun orang-orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kirinya maka dia berkata; "Wahai alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini) dan aku tidak mengetahui apakah hisab (perhitungan amal) terhadap diriku. Duhai seandainya kematian itu adalah kematian total (tidak usah hidup kembali). Hartaku juga sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku, kekuasaanku pun telah lenyap dari-padaku".(Al-Haqqah 25-29)
Dalam ayat ini Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam tafsirnya juz IV hal 501, menerangkan bahwa ayat tersebut menggambarkan keadaan orang-orang yang sengsara. Yaitu manakala diberi catatan amalnya di padang pengadilan Allah dari arah tangan kirinya, ketika itulah dia benar-benar menyesal, dia mengatakan penuh penyesalan: 'Andai kata saya tidak usah diberi catatan amal ini dan tidak usah tahu apakah hisab (perhitungan) terhadap saya (tentu itu lebih baik bagi saya) dan andaikata saya mati terus dan tidak usah hidup kembali.
Coba perhatikan ayat selanjutnya:
"Peganglah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya, kemudian masukkanlah dia ke dalam api Neraka yang menyala-nyala kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta" (Al-Haqqah ayat 30-32).
Bagi kaum beriman yang mengetahui makna yang terkandung dalam ayat tersebut, menjadi tergetarlah hatinya, akan menetes air mata mereka, terisaklah tangis mereka dan keluarlah keringat dingin di tubuh mereka, seakan mereka saat itu sedang merasakan peristiwa yang sangat dahsyat. Maka tumbuhlah rasa takut yang amat mendalam kepada Allah kemudian berlindung kepada Allah agar tidak menjadi orang-orang yang celaka seperti ayat di atas.

Jama'ah shalat Jum'at rahimakumullah.
Sesungguhnya manusia akan dibangkitkan pada hari Kiamat dan akan dikumpulkan menjadi satu untuk mempertanggungjawab-kan diri mereka. Allah berfirman:
"Dan dengarkanlah pada hari penyeru (malaikat) menyeru dari tempat yang dekat, yaitu pada hari mereka mendengar teriakan dengan sebenar-benarnya, itulah hari keluar (dari kubur)" (Qaf: 41-42).
Juga Allah berfirman dalam surat Al-Muthaffifin: 4-7.
"Tidakkah orang itu yakin bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan, pada hari yang besar, (yaitu) hari ketika manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam".
Dan manusia dibangkitkan dalam keadaan حُفَاةً عُرَاةً غُرْلاً
(mereka tidak beralas kaki, telanjang dan tidak berkhitan), sebagaimana firman Allah:
"Sebagaimana kami telah memulai penciptaan pertama, begitulah kami akan mengulangnya (mengembalikannya)" (Al-Anbiya:104).
Manusia akan dikembalikan secara sempurna tanpa dikurangi sedikitpun, dikembalikan dalam keadaan demikian bercampur dan berkumpul antara laki-laki dan perempuan. Dan tatkala Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam menceritakan hal itu kepada 'Aisyah Radhiallaahu anha maka berkatalah ia: "Wahai Rasulullah antara laki-laki dan perempuan sebagian mereka melihat kepada sebagian yang lain?", kemudian Rasulullah berkata:
اْلأَمْرُ أَشَدُّ مِنْ أَنْ يَنْظُرَ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ.
"Perkara pada hari itu lebih keras dari pada sekedar sebagian mereka melihat kepada sebagian lainnya." (Hadits shahih riwayat Al-Bukhari nomor 6027 dan Muslih nomor 2859 dari hadits 'Aisyah Radhiallaahu anha ).
Pada hari itu laki-laki tidak akan tertarik kepada wanita dan sebaliknya, sampai seseorang itu lari dari bapak, ibu dan anak-anak mereka karena takut terhadap keputusan Allah pada hari itu. Sebagaimana firman Allah:
"Pada hari ketika manusia lari dari saudara-saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istrinya dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang sangat menyibukkan". (Q.S. Abasa: 34-37).
Demikianlah peristiwa yang amat menakutkan yang akan terjadi di akhirat nanti, mudah-mudahan menjadikan kita semakin takut kepada Allah.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَمَّا بَعْدُ؛
Dari mimbar Jum'at ini kami sampaikan pula bahwasannya pada hari Akhir nanti matahari akan didekatkan di atas kepala-kepala sehingga bercucuran keringat mereka sehingga sebagian mereka akan tenggelam oleh keringat-keringat mereka sendiri, akan tetapi hal itu tergantung dari apa yang telah mereka perbuat di dunia.
Imam Muslim meriwayatkan dalam hadits yang shahih nomor 2864 dari hadits Al-Miqdad bin Al-Aswad Radhiallaahu anhu , berkata: Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda:
تُدْنَى الشَّمْسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنَ الْخَلْقِ حَتَّى تَكُوْنَ مِنْهُمْ كَمِقْدَارِ مِيْلٍ، فَيَكُوْنُ النَّاُس عَلَى قَدْرِ أَعْمَالِهِمْ فِي الْعَرَقِ، فَمِنْهُمْ مَنْ يَكُوْنُ إِلَى كَعْبَيْهِ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَكُوْنُ إِلَى رُكْبَتَيْهِ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَكُوْنُ إِلَى حَقْوَيْهِ، وَمِنْهُمْ مَنْ يُلْجِمُهُ الْعَرَقُ إِلْجَامًا. وَأَشَارَ رَسُوْلُ اللهِ بِيَدِهِ إِلَى فِيْهِ.
"Matahari akan didekatkan pada hari Kiamat kepada para makhluk sampai-sampai jarak matahari di atas kepala mereka hanya satu mil, maka manusia mengeluarkan keringat tergantung amalan-amalan mereka. Di antara mereka ada yang mengeluarkan keringat sampai mata kakinya dan ada yang sampai lututnya, ada juga yang sampai pinggangnya dan ada yang ditenggelamkan oleh keringat mereka." Dan Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam memberi isyarat dengan tangannya ke mulutnya.
Dan seandainya ada yang bertanya "bagaimana itu bisa terjadi sedangkan mereka berada pada tempat yang satu?" Maka Syaikh Al-Utsaimin Rahimahullaah menjawab pertanyaan tersebut sebagai berikut: "Ada sebuah kaidah yang hendaknya kita berpegang kepada kaidah itu, yaitu bahwa perkara ghaib, wajib bagi kita untuk mengimaninya dan membenarkannya tanpa menanyakan bagaimananya, karena perkara tersebut berada diluar jangkauan akal-akal kita, kita tidak mampu mengetahui dan meng-gambarkannya.
Demikianlah sebagian peristiwa di hari Akhir dan masih banyak lagi peristiwa yang akan kita alami yang hal itu akan menggetarkan hati bagi orang-orang Mukmin dan menjadikan mereka semakin takut kepada Allah.

Sumber : Ahmad Mansyur Pondok Pesantren Darussyafa'at
Khutbah Jum'at

Di susun oleh: Abu Adam Al-Khoyyat (Hartono)

Hadirin jamaah shalat Jum'at rahimakumullah
Hendaknya seorang Muslim senantiasa bersyukur kepada Allah atas nikmat-nikmat yang telah Allah limpahkan kepada kita semua, baik nikmat keimanan, kesehatan dan keluangan waktu sehingga kita bisa melaksanakan kewajiban kita menunaikan shalat Jum'at. Dan hendaklah kita berhati-hati agar jangan sampai menjadi orang yang kufur kepada nikmat Allah. Allah berfirman:

"Jikalau kalian bersyukur pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kalian mengingkari (nikmatKu), maka sesungguhnya siksaku sangat pedih." (Ibrahim: 7).
Demikian pula kami wasiatkan untuk senantiasa bertakwa kepada Allah dalam segala keadaan dan waktu. Takwa, sebuah kata yang ringan diucapkan akan tetapi tidak mudah untuk diamalkan.
Ketahuilah, wahai saudaraku rahimakumullah, tatkala Umar bin Khaththab Radhiallaahu anhu bertanya kepada shahabat Ubay bin Ka'ab Radhiallaahu anhu tentang takwa, maka berkatalah Ubay: "Pernahkah Anda berjalan di suatu tempat yang banyak durinya?" Kemudian Umar menjawab: "Tentu" maka berkatalah Ubay: "Apakah yang Anda lakukan", berkatalah Umar: "Saya sangat waspada dan hati-hati agar selamat dari duri itu". Lalu Ubay berkata "Demikianlah takwa itu" (Tafsir Ibnu Katsir, Juz 1, hal. 55).
Demikianlah takwa yang diperintahkan oleh Allah dalam kitabNya yakni agar kita senantiasa waspada dan hati-hati dalam setiap tindakan keseharian kita, dan juga dalam ucapan-ucapan kita, oleh karena itu janganlah kita berbuat dan berucap kecuali berdasarkan ilmu.

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah.
Hendaklah kita bersegera mencari bekal guna menuju pertemuan kita dengan Allah karena kita tidak tahu kapan ajal kita itu datang. Dan Allah berfirman:
"Dan berbekallah, maka sesungguhnya sebaik-baiknya bekal adalah takwa, dan bertakwalah kepadaKu hai orang-orang yang berakal." (Al-Baraqah:197)

Ketahuilah wahai saudaraku rahimakumullah.
Manusia setapak demi setapak menjalani tahap kehidupan-nya dari alam kandungan, alam dunia, alam kubur dan alam akhirat. Tahap-tahap tersebut harus dijalani sampai akhirnya nanti kita akan menemui alam akhirat tempat kita memperhitungkan amalan-amalan yang telah kita lakukan di dunia. Maka tatkala kita mendengar ayat-ayat Al-Qur'an dan hadits-hadits Nabi yang memberitakan tentang ahwal (keadaan) hari Akhir, hendaklah hati kita menjadi takut, menangislah mata kita, dan menjadi dekatlah hati kita kepada Allah.
Akan tetapi bagi orang yang tidak memiliki rasa takut kepada Allah tatkala disebut kata Neraka, adzab, ash-shirat dan lain sebagainya seakan terasa ringan diucapkan oleh lisan-lisan mereka tanpa makna sama sekali. Na-uzu billahi min dzalik. Mari kita perhatikan firman Allah dalam surat Al-Haqqah ayat 25-29.
"Adapun orang-orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kirinya maka dia berkata; "Wahai alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini) dan aku tidak mengetahui apakah hisab (perhitungan amal) terhadap diriku. Duhai seandainya kematian itu adalah kematian total (tidak usah hidup kembali). Hartaku juga sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku, kekuasaanku pun telah lenyap dari-padaku".(Al-Haqqah 25-29)
Dalam ayat ini Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam tafsirnya juz IV hal 501, menerangkan bahwa ayat tersebut menggambarkan keadaan orang-orang yang sengsara. Yaitu manakala diberi catatan amalnya di padang pengadilan Allah dari arah tangan kirinya, ketika itulah dia benar-benar menyesal, dia mengatakan penuh penyesalan: 'Andai kata saya tidak usah diberi catatan amal ini dan tidak usah tahu apakah hisab (perhitungan) terhadap saya (tentu itu lebih baik bagi saya) dan andaikata saya mati terus dan tidak usah hidup kembali.
Coba perhatikan ayat selanjutnya:
"Peganglah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya, kemudian masukkanlah dia ke dalam api Neraka yang menyala-nyala kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta" (Al-Haqqah ayat 30-32).
Bagi kaum beriman yang mengetahui makna yang terkandung dalam ayat tersebut, menjadi tergetarlah hatinya, akan menetes air mata mereka, terisaklah tangis mereka dan keluarlah keringat dingin di tubuh mereka, seakan mereka saat itu sedang merasakan peristiwa yang sangat dahsyat. Maka tumbuhlah rasa takut yang amat mendalam kepada Allah kemudian berlindung kepada Allah agar tidak menjadi orang-orang yang celaka seperti ayat di atas.

Jama'ah shalat Jum'at rahimakumullah.
Sesungguhnya manusia akan dibangkitkan pada hari Kiamat dan akan dikumpulkan menjadi satu untuk mempertanggungjawab-kan diri mereka. Allah berfirman:
"Dan dengarkanlah pada hari penyeru (malaikat) menyeru dari tempat yang dekat, yaitu pada hari mereka mendengar teriakan dengan sebenar-benarnya, itulah hari keluar (dari kubur)" (Qaf: 41-42).
Juga Allah berfirman dalam surat Al-Muthaffifin: 4-7.
"Tidakkah orang itu yakin bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan, pada hari yang besar, (yaitu) hari ketika manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam".
Dan manusia dibangkitkan dalam keadaan حُفَاةً عُرَاةً غُرْلاً
(mereka tidak beralas kaki, telanjang dan tidak berkhitan), sebagaimana firman Allah:
"Sebagaimana kami telah memulai penciptaan pertama, begitulah kami akan mengulangnya (mengembalikannya)" (Al-Anbiya:104).
Manusia akan dikembalikan secara sempurna tanpa dikurangi sedikitpun, dikembalikan dalam keadaan demikian bercampur dan berkumpul antara laki-laki dan perempuan. Dan tatkala Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam menceritakan hal itu kepada 'Aisyah Radhiallaahu anha maka berkatalah ia: "Wahai Rasulullah antara laki-laki dan perempuan sebagian mereka melihat kepada sebagian yang lain?", kemudian Rasulullah berkata:
اْلأَمْرُ أَشَدُّ مِنْ أَنْ يَنْظُرَ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ.
"Perkara pada hari itu lebih keras dari pada sekedar sebagian mereka melihat kepada sebagian lainnya." (Hadits shahih riwayat Al-Bukhari nomor 6027 dan Muslih nomor 2859 dari hadits 'Aisyah Radhiallaahu anha ).
Pada hari itu laki-laki tidak akan tertarik kepada wanita dan sebaliknya, sampai seseorang itu lari dari bapak, ibu dan anak-anak mereka karena takut terhadap keputusan Allah pada hari itu. Sebagaimana firman Allah:
"Pada hari ketika manusia lari dari saudara-saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istrinya dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang sangat menyibukkan". (Q.S. Abasa: 34-37).
Demikianlah peristiwa yang amat menakutkan yang akan terjadi di akhirat nanti, mudah-mudahan menjadikan kita semakin takut kepada Allah.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَمَّا بَعْدُ؛
Dari mimbar Jum'at ini kami sampaikan pula bahwasannya pada hari Akhir nanti matahari akan didekatkan di atas kepala-kepala sehingga bercucuran keringat mereka sehingga sebagian mereka akan tenggelam oleh keringat-keringat mereka sendiri, akan tetapi hal itu tergantung dari apa yang telah mereka perbuat di dunia.
Imam Muslim meriwayatkan dalam hadits yang shahih nomor 2864 dari hadits Al-Miqdad bin Al-Aswad Radhiallaahu anhu , berkata: Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda:
تُدْنَى الشَّمْسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنَ الْخَلْقِ حَتَّى تَكُوْنَ مِنْهُمْ كَمِقْدَارِ مِيْلٍ، فَيَكُوْنُ النَّاُس عَلَى قَدْرِ أَعْمَالِهِمْ فِي الْعَرَقِ، فَمِنْهُمْ مَنْ يَكُوْنُ إِلَى كَعْبَيْهِ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَكُوْنُ إِلَى رُكْبَتَيْهِ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَكُوْنُ إِلَى حَقْوَيْهِ، وَمِنْهُمْ مَنْ يُلْجِمُهُ الْعَرَقُ إِلْجَامًا. وَأَشَارَ رَسُوْلُ اللهِ بِيَدِهِ إِلَى فِيْهِ.
"Matahari akan didekatkan pada hari Kiamat kepada para makhluk sampai-sampai jarak matahari di atas kepala mereka hanya satu mil, maka manusia mengeluarkan keringat tergantung amalan-amalan mereka. Di antara mereka ada yang mengeluarkan keringat sampai mata kakinya dan ada yang sampai lututnya, ada juga yang sampai pinggangnya dan ada yang ditenggelamkan oleh keringat mereka." Dan Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam memberi isyarat dengan tangannya ke mulutnya.
Dan seandainya ada yang bertanya "bagaimana itu bisa terjadi sedangkan mereka berada pada tempat yang satu?" Maka Syaikh Al-Utsaimin Rahimahullaah menjawab pertanyaan tersebut sebagai berikut: "Ada sebuah kaidah yang hendaknya kita berpegang kepada kaidah itu, yaitu bahwa perkara ghaib, wajib bagi kita untuk mengimaninya dan membenarkannya tanpa menanyakan bagaimananya, karena perkara tersebut berada diluar jangkauan akal-akal kita, kita tidak mampu mengetahui dan meng-gambarkannya.
Demikianlah sebagian peristiwa di hari Akhir dan masih banyak lagi peristiwa yang akan kita alami yang hal itu akan menggetarkan hati bagi orang-orang Mukmin dan menjadikan mereka semakin takut kepada Allah.

Sumber : Ahmad Mansyur Pondok Pesantren Darussyafa'at

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Dewasa ini kita sering menyoroti hal-hal yang berkenaan dengan evaluasi, khususnya dalam kontek dengan model-model dalam evaluasi pendidikan yang dilaksanakan di sekolah. Karena evaluasi itu sendiri merupakan salah satu proses dalam pengajaran, yang dalam batas-batas tertentu dapat merupakan indikator yang mempengaruhi perubahan perilaku siswa.
Dalam model evaluasi itu sendiri di pandang sebagai bahan atau input yang digunakan untuk kepentingan pengambilan keputusan dalam rangka penyesuaian-penyesuaian dan penyempurnaan sistem yang dikembangkan dalam pendidikan.
Oleh karena itu, kiranya perlu untuk dibahas tentang beberapa model evaluasi yang ada, diantaranya measurament model, congruence model, educational system evaluation model, dan illuminative model yang akan kita bahas pada makalah ini. Dengan penulisan makalah ini diharapkan kita dapat mengetahui secara jelas dan rinci tentang model evaluasi. Dengan demikian lebih jelasnya akan kami paparkan dalam pembahasan.
B. Rumusan Masalah
1. Apa saja model-model evaluasi?
2. Apa saja hakikat model-model evaluasi?
3. Apa saja ruang lingkup yang terdapat dalam model evaluasi?
4. Apa saja pendekatan yang digunakan dalam model-model evaluasi?
C. Tujuan Masalah
1. Untuk mengetahui model-model evaluasi.
2. Untuk mengetahui hakikat model-model evaluasi.
3. Untuk mengetahui ruang lingkup yang terdapat dalam model evaluasi.
4. Untuk mengetahui pendekatan yang digunakan dalam model-model evaluasi.
BAB II
PEMBAHASAN
MODEL EVALUASI
A. Measurament Model
Model ini dipandang sebagai model yang tertua di dalam sejarah evaluasi dan telah banyak dikenal di dalam proses evaluasi pendidikan. Tokoh-tokoh evaluasi yang dipandang sebagai pengembang model ini adalah R. Thorndike dan R.L. Ebel.
1. Hakikat Evaluasi
Sesuai dengan namanya, model ini sangat menitikberatkan peranan kegiatan pengukuran di dalam melaksanakan proses evaluasi. Pengukuran dipandang sebagai seatu kegiatan yang ilmiah dan dapat diterapkan dalam bidang persoalan termasuk ke dalamnya bidang pendidikan.
Besarnya peranan atau arti pengukuran dalam proses evaluasi menurut model ini, telah menyebabkan kaburnya batas-batas antara pengertian pengukuran dan evaluasi itu sendiri bahwa jika tanpa pengukuran tidak ada evaluasi. Ini tentu akan membawa kita kepada pertanyaan tentang apa yang dimaksudkan dengan pengukuran itu.
Pengukuran, menurut model ini tidak dapat dilepaskan dari pengertian kuantitas atau jumlah. Jumlah ini akan menunjukan besarnya (magnitude) objek, orang ataupun peristiwa yang dilukuiskan dalam bentuk unit-unit ukuran tertentu seperti misalnya menit, derajat, meter, percentile dan sebagainya, sehingga dengan demikkian hasil pengukuran itu selalu dinyatatakan dalam bentuk bilangan.
Menurut model ini, evaluasi pendidikan pada dasarnya tidak lain adalah pengukuran terhadap berbagai aspek tingkah laku dengan tujuan untuk melihat perbedaan-perbedaan individu atau kelompok , yang hasilnya diperlukan dalam rangka seleksi, bimbingan dan perencanaan pendidikan bagi para siswa di sekolah.
2. Ruang lingkup evaluasi
Yang dijadikan objek dari kegiatan evaluasi model ini adalah tingkah laku, terutama tingkah laku siswa. Aspek tingkah laku siswa yang dinilai di sini mencakup kemampuan hasil belajar, kemampuan pembawaan (inteligensi, bakat), minat, sikap dan juga aspek-aspek kepribadian siswa. Dengan kata lain, objek evaluasi di sini mencakup baik aspek kognitif maupun dengan kegiatan evaluasi pendidikan di sekolah, model ini menitikberatkan pada pengukuran terhadap hasil belajar yang dicapai siswa pada masing-masing bidang pelajaran dengan menggunakan tes. Hasil belajar yang dijadikan objek evaluasi di sini adalah hasil belajar dalam bidang pengetahuan (kognitif) yang mencakup berbagai tingkat kemampuan seperti kemampuan ingatan, pemahaman aplikasi dan sebagainya, yang evaluasinya dapat dilakukan secara kuantitatif-objektif dengan menggunakan prosedur yang dapat distandardisasikan. Program pengukuran hasil belajar yang dilaksanakan secara baik menurut model ini, akan dapat memenuhi kebutuhan berbagai pihak yang berkepentingan dalam pengelolaan proses pendidikan, para pengawas, kepala sekolah, guru, pembimbing, dan orang tua.
3. Pendekatan
Alat evaluasi yang lazim digunakan di dalam model evaluasi ini adalah tes tertulis atau paper and pencil test. Secara lebih khusus lagi, bentuk tes yang biasanya digunakan adalah bentuk tes objektif yang soal-soalnya berupa pilihan ganda, menjodohkan, benar salah dan sebagainya.
Sekalipun ada kritikan-kritikan mengenai penggunaan bentuk-bentuk tertentu dari tes objektif ini, misalnya bentuk benar-salah yang dianggap “lemah”, tokoh-tokoh dari model evaluasi ini tetap berpendapat bahwa bentuk “benar-salah” ini masih dapat terus digunakan asal disusun secara baik.
Untuk mendapatkan hasil pengukuran yang setepat mungkin ada kecenderungan dari model measurement ini untuk mengembangkan alat-alat evaluasi (tes) yang baku atau standardized. Tes yang belum dilakukan dipandang kurang dapat mencapai tujuan dari pengukuran itu sendiri. Oleh karena itu, setelah suatu tes dicobakan kepada sampel yang cukup besar, berdasarkan data yang diperoleh, diadakan analisis untuk menentukan validitas dan reliabilitas tes secara keseluruhan maupun setiap soal yang terdapat di dalamnya. Mengingat salah satu tujuan pengukuran adalah mengungkapkan perbedaan individual di kalangan para siswa, dalam menganalisis soal-soal tes sangat diperhatikan faktor tingkat kesukaran dan daya pembeda yang dimilik masing-masing soal. Dalam hubungan dengan tingkat kesukaran, setiap tes hasil belajar diharapkan mempunyai penyebaran yang merata dalam tingkat kesukaran sehingga cukup memberikan tantangan kepada siswa-siswa yang pandai, namun tetap memberikan kemungkinan kepada siswa-siswa yang kurang pandai untuk menunjukan kebolehannya. Mengenai daya pembeda, setiap soal tes ddiharapkan dapat membedakan antara siswa yang pandai dan siswa yang kurang. Suatu soal dipandang memiliki daya pembeda yang tinggi bila berdasarkan analisis hasil percobaan, kelompok siswa yang pandai menjawab soal tersebut dengan betul, sedangkan kelompok siswa yang kurang pandai menjawab soal tersebut dengan salah.
Pendekatan yang juga ditempuh oleh model ini di dalam menilai sistem Pendidikan adalah membandingkan hasil belajar antara dua atau lebih kelompok yang menggunakan cara pengajaran yang berbeda sebagai variabel bebas. Dalam evaluasi ini, kepada dua/lebih kelompok tersebut diberikan tes yang sama untuk kemudian dianalisis perbedaan skor yang dicapai oleh kelompok-kelompok tadi. Analisis perbedaan skor ini dilakukan dengan menggunakan cara-cara statistik tertentu untuk dapat menyimpulkan cara pengajaran mana yang lebih efektif di antara cara-cara yang dinilai tadi.

B. Congruence Model
Model yang kedua ini dapat dipandang sebagai reaksi terhadap model yang pertama, sekalipun dalam beberapa hal masih menunujukan adanya persamaan dengan model yang pertama. Tokoh-tokoh evaluasi yang merupakan pengembangan model ini antara lain adalah Raph W. Tyler, John B. Carroll, and Lee J. Cronbach.
1. Hakikat Evalouasi
Tyler menggambarkan pendidikan sebagai suatu proses, yang didalmnya terdapat tiga hal yang perlu kita bedakan, tujuan pendidikan, pengalaman belajar, dan penilaian terhadap hasil belajar. Hubungan di antara ketiga dimensi diatas dalam proses pendidikandigambarkan dalam diagram dibawah ini:




Tujuan Pendidikan

(a) (c)

Pengalaman Hasil belajar
Belajar
(b)
Garis (a) menunjukan hubungan antara tujuan pendidikan dan pengalaman belajar, garis (b) menunjukan antara pengalaman belajar dan hasil belajar, dan (c) menunjukan hubungan antara tujuan dan hasil belajar.
Dalam diagram diatas, kegiatan evaluasi dinyatakan oleh g aris (c), atau dengan kata lain, evaluasi disini dimaksudkan sebagai kegiatan untuk melihat sejauh mana tujuan-tujuan pendidikan telah dapat dicapai siswa dalam bentuk hasil belajar yang mereka perlihatkan pada akhir kegiatan pendidikan. Ini berarti bahwa evaluasi itu pada dasarnya ingin memperoleh gambaran mengenai efektifitas dari sistem pendidikan yang bersangkutan dalam mencapai tujuannya. Mengingat tujuan-tujuan pendidikan mencerminkan perubahan-perubahan tingkah laku yang diinginkan pada anak didik, maka yang penting dalam proses evaluasi adalah memeriksa sejauh mana perubahan-perubahan tingkah laku yang diinginkan itu telah terjadi pada anak didik.
Di samping untuk kepentingan bimbingan siswa dan perbaikan sistem, evaluasi ini dimaksudkan pula untuk memberikan informasi kepada pihak-pihak di luar pendidikan tentang sejauh mana tujuan-tujuan yang diinginkan it telah dapat dicapai oleh sistem pendidikan yang ada.
Menurut model ini, evaluasi itu tidak lain adalah usaha utuk memeriksa persesuaian (congruence) antara tujuan-tujuan pendidikan yang diinginkan dan hasil belajar yang telah dicapai. Berhubung tujuan-tujuan pendidikan menyangkut perubahan-perubahan tingkah laku yang diinginkan pada diri anak didik, maka evaluasi yang diinginkan itu telah terjadi. Hasil evaluasi yang diperoleh berguna bagi kepentingan, menyempurnakan sistem bimbingan siswa dan untuk memberikan informasi kepada pihak-pihak diluar pendidikan mengenai hasil-hasil yang telah dicapai.
2. Ruang Lingkup
Dalam bukunya yang terkenal: Basic Principle of Curriculum and Instruction, Tyler memberikan ilustrasi tentang dimensi-dimensi tujuan pendidikan dalam suatu unit pelajaran tertentu, seperti yang terlihat dalam bagan dibawah ini:
Aspek isi dari tujuan
A. Fungsi Organisme Manusia

1. Nutrisi
2. Pencernaan
3. Peredaran darah
4. Pernapasan
5. Reproduksi, dll Aspek tingkah laku dari tujuan
Memahami fakta-fakta dan prinsip yang penting Kemampuan menerapkan prinsip Sikap sosial dan lain-lain
X
X
X
X
X X
X
X
X
X X



X
Dari bagan diatas, dapat dikemukakan bahwa tingkah laku hasil belajar yang perlu dinilai menurut model ini mencakup aspek pengetahuan, ketrampilan dan nilai/sikap, sejauh aspek-aspek tersebut tercantum didalm rumusan tujuan dari suatu sistem pendidikan.
Sebagai kesimpulan dari bagan ini dapat dikemukakan bahwa objek evaluasi yang dikemukakan dalam model ini adalah tingkah laku siswa, khususnya tingkah laku hasil belajar sebagaimana yang dimaksudkan dalam rumusan tujuan pendidikan. Tingkah laku tersebut mencakup baik aspek pengetahuan maupun aspek ketrampilan dan sikap, sebagai hasil dari proses pendidikan.
3. Pendekatan
Ada dua hal penting yang perlu dikemukakan mengenai pendekatan evaluasi yang dianut oleh model ini:
Pertama, berhubung yang akan dinilai di sini adalah perubahan tingkah laku siswa setelah menempuh suatu kegiatan pendidikan tertentu, perlu adanya evaluasi sebelum dan sesudahnya kegiatan pendidikan berlangsung dilaksanakan. Dengan kata lain, model ini menyarankan digunakannya prosedur pre dan post test untuk menilai hasil atau gains yang dicapai siswa sebagai akibat dari kegiatan pendidikan yang telah diikutinya.
Kedua, model ini tidak menyarankan dilaksanakannya apa yang disebut evaluasi perbandingan untuk melihat sejauh mana kurikulum yang baru lebih efektiv dari kurikulum yang ada. Bahkan lebih jauh dari itu, model ini cenderung tidak menyetujui diadakannya evaluasi perbandingan ini. Karena itulah baik Tyler maupun Cronbach lebih mengarahkan peranan evaluasi pada tujuan untuk memperbaiki kurikulum atau sistem pendidikan.
Akhirnya, mengenai langkah-langkah yang perlu ditempuh di dalam proses evaluasi menurut model ini, Tyler mengajukan 4 langkah pokok yaitu:
a) Merumuskan atau mempertegas tujuan-tujuan pengajaran.
Berhubung evaluasi diadakan untuk memeriksa sejauh mana tujuan-tujuan yang telah dirumuskan itu telah dapat dicapai, perlu masing-masing tujuan itu diperjelas rumusannya sehingga memberikan arah yang lebih tegas di dalam proses perencanaan evaluasi yang akan dilakukan.
b) Menetapkan “test situation” yang diperlukan.
Dalam langkah ini ditetapkan jenis-jenis situasi yang akan memungkinkan para siswa untuk memperlihatkan tingkah laku yang akan di evaluasi tersebut.
c) Menyusun alat evaluasi
Berdasarkan rumusan tujuan dan test situation yang telah ditetapkan dalam langkah-langkah sebelumnya, kini dappat ditetapkan dan disusun alat-alat evaluasi uang cocok untuk digunakandalam menilai jenis-jenis tingkah laku yang tergambar dalam tujuan tersebut diatas.
d) Menggunakan hasil evaluasi
Setelah tes dilaksanakan, hasilnya diolah sedemikian rupa agar dapat memenuhi tujuan diadakannya evaluasi tersebut, baik untuk kepentingan bimbingan siswa maupun untuk perbaikan siswa.
Pendekatan Tyler pada prinsipnya menekankan perlunya suatu tujuan dalam proses proses belajar mengajar. Pendekatan ini merupakan pendekatan sistematis, elegan, akurat, dan secara internal memiliki rasional yang logis. Dibanding dengan model evaluasi lainnya kesederhanaan model Tyler juga merupakan kelebihan tersendiri dan merupakan kekuatan konstruk yang elegan serta mencakup evaluasi kontingensi.
Dalam implemantasinya, model Tyler juga menggunakan unsur pengukuran dengan usaha secara konstan, paralel, dengan inquiri ilmiah dan melengkapi legitimasi untuk mengangkat pemahaman tentang evaluas. Pada model Tyler sangat sangat membedakan antara konsep pengukuran dan pengetahuan evaluasi terpisah dan merupakan proses dimana pengukuran hanya satu dari beberapa kemungkinan salah satu cara dalam mendukung tercapainya evaluasi.

C. Educational System Evaluation Model
Model yang akan dibahas disini merupakan reaksi terhadap kedua model terdahulu yang telah dibahas. G.V. Class dalam tulisannya yang berjudul Two Generations of Evaluation Models menyebut model ketiga ini sebagai Educational System Evaluation Model karena ketiga ruang lingkupnya yang jauh lebih luas dari kedua model yang terdahulu. Tokoh-tokoh evaluasi yang dipandang sebagai pengembang dari model yang ketiga ini antara lain adalah Daniel. L. Stufflebearn, Michael Schriven, Robert E. Stake dan Malcolm M. Provus.
1. Hakikat Evaluasi
Evaluasi, menurut model ini dimaksudkan untuk membandingkan performance dari berbagai dimensi sistem yang sedang dikembangkan dengan sejumlah kriteria tertentu, untuk akhirnya sampai pada suatu deskripsi dan jidgement mengenai sistem yang dinilaitersebut.
Ada empat hal yang perlu dikemukakan mengenai pandangan model yang ketiga ini tentang evaluasi:
Pertama evaluasi itu ditujukan kepada berbagai dimensi dari sistem yang dikembangkan, tidak hanya dimensi hasilnya saja.
Kedua, proses evaluasi itu mencakup perbandingan antara performance dan kriteria, baik kriteria yang sifatnya mutlak maupun relatif.
Ketiga, evaluasi tidak hanya berakhir dengan suatu deskripsi mengenai keadaan sistem yang bersangkutan tetapi juga menuntut adanya judgment sebagai kesimpulan dari hasil evaluasi.
Keempat, hasil evaluasi digunakan sebagai bahan atau input bagi pengambilan keputusan dalam rangka penyempurnaan sistem maupun penyimpulan mengenai kebagian sistem yang bersangkutan secara keseluruhan.
2. Ruang Lingkup
Sesuai dengan pandangan yang perrtama di atas dimensi dari sistem pendidikan yang dijadikan objek evaluasi di dalam model yang ketiga ini lebih luas yaitu mencakup dimensi perealatan/sarana proses dan hasil atau produk yang diperlihatkan oleh sistem yang bersangkutan.
Stake membagi objek evaluasi atas tiga kategori yaitu:
1) Dengan antecedents dimaksudkan adalah sumber/model/input yang ada pada saat sistem itu dikembangkan, seperti tenaga, keuangan, karakteristik siswa, dan tujan yang ingin dicapai.
2) Dimensi yang disebut transaction mencakup rencana kegiatan maupun proses pelaksanaannya di lapangan, termasuk kedalamnya ukuran kegiata, penjadwalan waktu, bentuk interaksi antara guru dan murid, cara menilai hasil belajar di kelas, dan sebagainya.
3) Dengan outcomes disini dimaksudkan antara lain adalah hasil yang dicapai para siswa, reaksi guru terhadap sistem tersebut.
Stufflebearn, dalam bukunya Educational Evaluation and Decision Making, menggolongkan sistem pendidikan ada 4 dimensi yaitu:
1) Context: Situasi atau latar belakang yang mempengaruhi jenis-jenis tujuan dan strategi pendidikan yang akan dikembangkan dalam program yang bersangkutan, seperti : kebijakan departemen atau unit kerja yang bersangkutan, sasaran yang ingin dicapai oleh unit kerja dalam kurun waktu tertentu, masalah ketenagaan yang dihadapi dalam unit kerja yang bersangkutan, dan sebagainya.
2) Input: Bahan, peralatan, fasilitas yang disiapkan untuk keperluan pendidikan, seperti : dokumen kurikulum, dan materi pembelajaran yang dikembangkan, staf pengajar, sarana dan pra sarana, media pendidikan yang digunakan dan sebagainya.
3) Process: Pelaksanaan nyata dari program pendidikan tersebut, meliputi: pelaksanaan proses belajar mengajar, pelaksanaan evaluasi yang dilakukan oleh para pengajar, penglolaan program, dan lain-lain.
4) Product: Keseluruhan hasil yang dicapai oleh program pendidikan, mencakup jangka pendek dan jangka lebih panjang.
Dalam membahas tahap-tahap evaluasi yang perlu ditempuh, Provus mengemukakan 4 dimensi yang perlu dinilai dalam proses pengembangan sistem pendidikan, yaitu:
a. Design, disini dapat dihubungkan dengan rencana/sarana.
b. Operation program dapat diartikan sebagai proses pelaksanaan.
c. Interim products hasil belajar jangka pendek. dan
d. Terminal products hasil belajar dalam waktu yang lebih panjang.
Dengan demikian objek evaluasi yang diajukan oleh Provus disini mencakup pula dimensi sarana/rencana proses, dan hasil yang dicapai.
Sehubungan dengan ruang lingkup objek evaluasi pada model ini, jenis-jenis data yang dikumpulkan dalam kegiatan evaluasi menurut model ini mencakup baik data-data objektif (skor hasil tes) maupun data-data subjektif atau judgmental data (pandangan guru-guru, reaksi para siswa, dan sebagainya).
Menurut model ini, kenyataan bahwa judgment itu memandang unsur-unsur subjektif tidak mengurangi pentingnya hal tersebut dalam proses evaluasi. Yang perlu dilakukan adalah mengembangkan cara yang akan memungkinkan unsur-unsur subjektif dalam judgment tersebut dapat ditekankan sampai seminimal mungkin.
3. Pendekatan
Ada dua pendekatan utama yang diajukan oleh model ini dalam pelaksanaan evaluasi:
1) Perbandingan berdasarkan kriteria intern
Pendekatan yang pertama ini ditempuh pada saat sistem masih berada pada fase pengembangan dan masih mengalami perbaikan-perbaikan. Untuk setiap dimensi sistem (input, proses, hasil) dilakukan evaluasi berdasarkan kriteria yang ada:
a) Rencana dinilai berdasrkan kriteria rencana yang baik.
b) Proses (pelaksanaan) dievaluasi dari kesesuaiannya dengan rencana yang ada; rencana kegiatan disini berlaku sebagai kriteria.
c) Hasil yang dicapai dinilai dari kesesuaiannya dengan tjuan yang ingin dicapai; tujuan di sini berlaku sebagai kriteria.
Secara lebih luas dan lebih tuntas Stake melukiskan pendekatan yang pertama ini dengan menggunakan dua cara evaluasi, yaitu: pertama menetapkan contingencies antara antecedents, transactions dan outcomes yang dimaksud disini adalah hubungan logis antara ketiga dimensi sistem, khususnya antara tujuan, strategi dan hasil, baik yang tercantum dalam rencana (di atas kertas) maupun yang terjadi di lapangan. Kemudian yang kedua menetapkan congruence antara apa yang diharapkan (kriteria) dan apa yang terjadi (performance). Congruence, dimaksudkan adalah kesesuaian antara yang diharapkan (kriteria) dan yang terjadi/dihasilkan, sebagaimana diuraikan dalam pokok (1) (2) (3) di atas.
2) Perbandingan berdasrkan kriteria ekstern
Pendekatan yang kedua ini ditempuh pada saat sistem sudah berada dalam keadaan “siap” setelah mengalami perbaikan-perbaikan selama fase pengembangan.
Scriven sebagai salah seorang tokoh dari model ketiga ini, sangat menekankan pentingnya evaluasi yang menyeluruh dari sistem tersebut pada akhir fase pengembangannya termasuk evaluasi terhadap tujuan yang ingin dicapainya. Untuk mengetahui apakah sistem yang baru tersebut memang baik, salah satu caranya adalah dengan membandingkan sistem tersebut dengan sistem yang lain, perbandingan yang akan dilakukan disini didasrkan atas kriteria di luar sistem yang berlaku sekarang. Dengan kata lain, perbandingan yang akan dilakaukan di sini didasrkan atas kriteria di luar sistem yang baru tersebut, kriteria ini sifatnya relatif.
Untuk melaksanakan kedua pendekatan diatas diperlukan berbagai cara evaluasi di samping tes hasil belajar, yaitu observasi, angket, wawancara dan juga content analysis, mengingat data yang dikumpulkan di sini mencakup baik data objektif maupun data subjektif atau judgmental data.

D. Illuminative Model
Sebagaimana halnya model yang ketiga, model yang keempat ini pun dikembangkan sebagai reaksi terhadap dua model evaluasi yang pertama, yaitu measurement dan congrruence. Penggunaan nama Illuminative Model oleh pengembangannya didasarkan atas alasan bahwa penggunaan berbagai cara penilaian di dalam model ini bila dikombinasikan akan “help illuminative problem, issues, and significan program features”. Model ini dikembangkan terutama di Inggris dan banyak dikait dengan pendekatan dalam bidang antropologi. Salah seorang tokoh yang paling menonjol dalam usahanya mengembangkan model ini adalah Malcolm Parlett.
1. Hakikat evaluasi
Tujuan evaluasi menurut model yang keempat ini adalah mengadakan studi yang cermat terhadap sistem yang bersangkutan : bagaimana pelaksanaan sistem tersebut di lapangan, bagaimana pelaksanaan itu dipengaruhi oleh situasi sekolah tempat yang bersangutan dikembangkan, apa kebaikan-kebaikan dan kelemahan-kelemahan dan bagaimana sistem tersebut mempengaruhi pengalaman-pengalaman belajar para siswa. Hasil evaluasi yang dilaporkan lebih bersifat deskripsi dan interpretasi, bukan pengukuran dan prediksi. Oleh karena itu dalam pelaksanaan evaluasi, model yang keempat ini lebih banyak menekankan pada penggunaan judgment. Atau dengan kata lain, dalam mengadakan evaluasi, model ini berpegang pada semboyan bahwa the judgment is the evaliation.
Akhirnya, model ini juga memandang fungsi evaluasi sebagai bahan atauu input untuk kepentingan pengambialan keputusan dalam rangka penyesuaian-penyesuaian dan penyempurnaan sistem sedang dikembangkan.
2. Ruang lungkup
Objek evaluasi yang diajukan oleh model ini mencangkup :
a) Latar belakang dan perkembangan yang dialami oleh sistem yang bersangkutan.
b) Proses pelaksanaan sistem itu sendiri.
c) Hasil belajar yang diperlihatkan oleh para siswa
d) Kesukaran-kesukaran yang dialami dari perencanaan sampai dengan pelaksanaan di lapangan.
Dengan kata lain, objek evaluasi dari model ini mencangkup baik kurikulum yang “terlihaat” maupun kurikulum yang “tersembunyi”. Menurut model ini, kedua jenis kurikulum diatas sama pentingnya karena keduanya mempunyai pengaruh di dalam, dalam rangka pencapaian tujuan pendidikan.
3. Pendekatan
Cara-cara yang digunanakan dalam pendekatan ini tidak bersifat standar melainkan lebih bersifat fleksibel dan selektif. Pengembangan model ini beranggapan bahwa “the problem definis the methode used, not vice versa”. Berhubung situasi yang akan diniali bersifat “terbuka” tidak mungkin di gunakan suatu cara yang standar. Ini berarti bahwa model ini yang digunakan dalam evaluasi hendaknya model yang sifatnya responsif terhadap segala perkembangan yang sialami program-program proses evaluasi berlangsung.
Sehubungan dengan pendekatan evaluasi dengan tujuan dan pendekatan evaluasi yang dianut oleh model ini, ada tiga fase kegiatan evaluasi yang diajukan secara berturut-turut yaitu:
Tahap 1 : observe
Dalam tahap ini penilaian mengunjungi sekolah tempat suatu sistem sedang dikembangkan. Dalam kesempatan ini pengevaluasi akan mendengarkan dan melihat berbagai peristiwa, persoalan serta reaksi dari guru maupun siswaterhadap pelaksanaan sistem tersebut. Kunjungan dalam tahap ini dapat dipandang sebagai orientasi untuk lebih mengenal sistem yang bersangkutan dari dekat, sehingga di samping pengamatan, wawancara serta informal dengan guru-guru maupun para siswa.
Tahap 2 : inquiry further
Dalam tahap kedua ini, berbagai persoalan yang terlihat atau terdengar dalam tahap pertama kini diseleksi untuk mendapatkan perhatian dan penelitian lebih lanjut. Mengingat dalam tahap pertama pengevaluasi sudah memperoleh pengetahuan yang cukup memadai mengenai sistem yang bersangkutan, pertanyaan-pertanyaan mengenai persoalan-persoalan tertentu kepada para guru dan siswa, kini dapat lebih intensif dan terarah. Dengan kata lain studi terhadap berbagai persoalan yang telah diseleksi tersebut menjadi lebih sistematik dan terarah, tapi belum sampai pada evaluasi tentang sebab-sebab dari masing-masing persoalan.
Tahap 3 : seek to explain
Dalam tahap ketiga, penilai mulai meneliti sebab-akibat dari masing-masing persoalan. Disini mulai digali faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya persoalan-persoalan tadi. Dalam hubungan ini data-data yang diperoleh secara terpisah-pisah tadi mulai disusun dan dihubungakn dalam kesatuan situasi yang terdapat pada sekolah yang bersangkutan. Pada tahap inilah mulai dilakukan interpretasi terhadap data yang diperoleh dan data-data tersebut telah disusun serta dihubungakn dengan berbagai data yang lain. Informasi inilah kemudian yang dijadikan sebagai bahan atau input dalam rangka pengambilan keputusana untuk mengadakn perbaikan-perbaikan ataupun penyesuaian-penyesuaian yang diperlukan.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pendekatan yang ditempuh model ini dalam melaksanakan evaluasi lebih bersifat terbuka atau open-ended dan dalam melaporkan hasil evaluasi lebih banyak digunakan cara deskriptif dalam penyajian informasinya.

BAB III
PENUTUP
Dalam pembahasan di atas dapat disimpulkan ke dalam beberapa poin dalam di bawah ini. Ada 4 (empat) model evaluasi:
M.Evaluasi Tokoh Hakikat Evaluasi R. lingkup Evaluasi Pendekatan
1. Measurement Tokoh: R. Thorndike dan R.L. Ebel Peranan kegiatan dalam melaksanakan proses evaluasi Tingkah laku siswa sebagai objeknya Membandingkan hasil belajar antara 2/lebih kelompok yang menggunakan cara pengajaran yang berbeda sbg fariabel.
2. Congruence Raph W. Tyler, John B. Carroll, and Lee J. Cronbach. Usaha untuk memeriksa persesuaian antara tujuan dan pendidikan yang diinginkan dan hasil belajar yang telah dicapai. Tingkah laku siswa sebagai objeknya Tidak hanya tes tertulis tapi juga menggunakan tes perbuatan dan observasi
3. Educational
Sistem Evaluation -Daniel. L. Stufflebearn
-Michael Schriven
-Robert E. Stake dan Malcolm M. Provus. Membandingkan performent di berbagai dimensi sistem yang sedang dikembangkan dengan sejumlah kriteria tertentu Objek evaluasi dalam rangka mengembangkan kurikulum/sistem pendidikan ada 4 dimensi: Context, input, process, product. Membandingkan performent tiap dimensi dengan kriteria intern dan ekstern
4. Illuminative Model Malcolm Parlett. Evalua kualitatif dan terbuka -latar belakang dan perkembangan yang dialami oleh sistemyang bersangkutan Fleksibel dan selektif
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Copyright © 2012 Education.